Homoseksual

“Urip iku kan mung perkara milih.”

Kata-kata tersebut selalu terngiang-ngiang di telinga saya, karena apa yang terjadi di masa sekarang ini sebenarnya adalah rangkaian pilihan-pilihan yang kita buat di masa lampau, begitu pula pilihan di masa sekarang akan berakibat atas apa yang akan terjadi kepada kita di masa depan.

Akhir-akhir ini bahasan mengenai homoseksual begitu ramai diperbincangkan, pro dan kontra, banyak orang menyuarakan pendapatnya, komplit dengan bumbu argumen-argumen yang mendukung pendapat mereka, mulai dari dogma-dogma agama, kemanusiaan, sampai dengan hasil penelitian ilmiah yang belum tentu salah benarnya, riuh sekali.

Homoseksual memang sesuatu yang masih asing dalam budaya timur kita, bahkan bisa dianggap menjadi aib. Namun akhir-akhir ini di ibukota, saya mulai melihat kecenderungan pasangan-pasangan gay mulai menunjukkan eksistensi mereka di depan umum, kenapa hanya gay? Sederhana sahaja, karena saya lebih mudah mengenalinya daripada pasangan lesbian.

tumblr_nqkcr8mhye1tkv3afo1_1280.jpg

Bagi saya yang asing dengan hal tersebut, tentu aneh melihatnya. Namun beda ladang beda belalang, nun jauh di Belanda sana, banyak teman-teman kuliah istri saya tercinta dengan terang-terangan mengungkapkan orientasi seksual mereka bawasannya mereka adalah seorang homoseksual, yang mana hal tersebut merupakan hal biasa sahaja.

Dalam budaya pewayangan sendiri, sebagaimana yang pernah saya pelajari, dalam kisah Mahabharata, Sikhandi atau Srikandi dalam pewayangan versi India digambarkan adalah seorang transgender, dimana dia bertukar kelamin dengan seorang Yaksha. Namun demikian begitu diadaptasi ke dalam budaya Jawa, para pujangga Jawa menggubah Srikandi menjadi seorang prajurit wanita perkasa, istri Arjuna yang membinasakan Bisma.

Bukan bermaksud untuk menambah riuh suasana, bagi saya yang percaya akan pesan dari langit, (maaf) saya berpendapat bahwa homoseksual merupakan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Bagaimana dikisahkan umat Nabi Luth dimurkai dan dibinasakan Tuhan begitu jelas tertulis di kitab suci yang saya baca. Namun demikian banyak yang berargumen homoseksual merupakan kehendak Tuhan, lalu bagaimana dengan para pedofil? para koruptor? para teroris? Bukan bermaksud untuk mempersamakan, namun seolah-olah manusia tidak punya pilihan atas hidupnya. Perihal hidup telah digariskan sebelum kita dilahirkan, saya percaya itu, namun sebagaimana difirmankan, manusia diberi kelebihan, manusia diberi pilihan, maka dari itulah, hidup adalah perkara pilihan sahaja. Tuhan menggariskan, garis mana yang dilalui, itu perkara manusia yang menentukan.

Ndak ilmiah? Ndak semua harus dibuktikan dengan ilmu pengetahuan bukan, sebagaimana saya percaya Ibrahim tidak merasakan panas ketika dibakar, atau sebagaimana Sulaiman berbicara dengan hewan, modal saya hanya percaya sahaja, saya masih takut kualat dengan Tuhan saya, dan pula hal tersebut masuk di logika saya. Bagaimana dengan penelitian ilmiah bawasanya ada gen yang menyebabkan homoseksual dan tidak bisa diubah? Hal tersebut masih diperdebatkan bukan? Dan semisal ada penelitian yang mengatakan pedofil adalah bawaan gen, apa sampeyan akan percaya begitu sahaja sebagaimana sampeyan percaya penelitian mengenai gen homoseksual tersebut? Saya kok lebih percaya pola asuh, lingkungan, dan pergaulan berpotensi lebih besar menyebabkan seseorang menjadi homoseksual.

Tentu yang saya sampaikan di atas adalah obyeknya sahaja, yaitu homoseksual sebagai sebuah sifat. Mengenai subyeknya, manusianya, tentu tak perlu ada hinaan, makian, apalagi sampai dimarginalkan, kita perlu rangkul bersama-sama. Namun, dalam pandangan saya, bawasanya mereka adalah orang yang linuwih, mereka diberi ujian sebegitu besarnya oleh Tuhan, yang mana saya sendiri juga tidak yakin bisa melewatinya apabila saya diberi ujian yang sama. Sekali lagi, itu pendapat pribadi saya sahaja, dalam bingkai budaya Jawa di mana saya dibesarkan. Kalau memang sampeyan berpendapat berbeda, entah atas nama kemanusiaan atau solidaritas tentulah itu sah-sah sahaja, tak perlu lah mengencangkan urat leher, apalagi sampai baku hantam.

Terakhir, saya punya satu pertanyaan untuk sampeyan yang mendukung akan homoseksual, bagaimana jikalau saudara, anak, atau bahkan orang tua sampeyan ternyata homoseksual, apakah sampeyan akan tetap mendukungnya? Tentu itu pilihan sampeyan untuk menjawabnya, karena “urip iku kan mung perkara milih”.

Think Tank, Soenda Kelapa, 24 Januari 2016

.

.

.

.

.

Setelah tak pikir-pikir lagi, kok ya ngapain saya nulis seperti ini, hidup kok ya seolah-olah hanya perkara ngencuk sahaja. Mohon dimaafkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s