Gamang

Hampir dua bulan sudah saya bertugas di Pulau Nunukan, di ujung utara Kalimantan. Dan hampir dua bulan pula saya masih mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru saya yang sunyi, damai, dan berjalan lambat. Tempo hari, saya mendapat penugasan ke Balikpapan, kota minyak yang berkilau di pesisir timur Kalimantan. Bertolak belakang dengan Nunukan, Balikpapan tak ubahnya seperti kota-kota besar di Pulau Jawa yang akrab dengan segala riuh ramai jalanannya, kemacetannya, dan menjamurnya pembangunan gedung-gedung yang menjulang tinggi di tiap sudut kota. Tak lagi bisa ditemui hutan-hutan yang teduh, petani yang menggelar lapak menjajakan hasil ladangnya, atau burung-burung rawa yang menyeberang di sepanjang jalan, seperti di Nunukan.

Ada perasaan aneh yang timbul saat saya melihat pemandangan dari jendela taxi yang mengantar saya dari Bandara Sepinggan ke tempat penginapan. Ironi, ya ironi, kata yang paling cocok untuk menggambarkannya, semua menjadi terasa asing bagi saya.  Rumah-rumah saling menempel satu-sama lain bersanding dengan gedung-gedung tinggi yang angkuh, sementara itu jalanan dipenuhi manusia yang saling berebut diburu waktu. Sungguh riuh, tidak teratur, egois, dan materialistis. Pun ketika malam harinya saya masuk ke dalam sebuah mall, memandang wajah-wajah letih SPG yang memaksakan keramahannya kepada tiap orang yang lewat tidak peduli di depan booth’nya, dingin dan kaku.

Pembangunan tak selamanya ikut membangun jiwa-jiwa manusia di dalamnya. Pembangunan cenderung menggerus “kemanusian” yang telah terbentuk dari masa sebelumnya. Eksploitasi dengan dalih pembangunan merupakan sisi lain yang tak terpisahkan. Yang kuat untung, yang lemah buntung.

Setelahnya, saya membayangkan dengan gamang, Nunukan yang hilang kehangatannya, hilang identitasnya, dieksploitasi kaum-kaum kapitalis atas nama pembangunan. Akhirnya kearifan-kearifan lokal yang ada akan membatu menjadi berhala. Yang mana sepengetahuan saya hal tersebut sedang terjadi.

Dan saya pun masih duduk termangu di ruang tunggu Bandara Sepinggan, memandang tiang-tiang baja menjulang tinggi, dingin dan kaku, tak ubahnya ekspresi SPG yang saya jumpai di mall malam sebelumnya.
image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s