Anak yang Hilang (Akankah) Kembali Pulang

Malam mulai turun di Dukuh Kuwiran, sebuah kampung kecil yang merupakan salah satu dukuh terakhir di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah selatan. Jalan utama yang menghubungkannya dengan kecamatan tetangga mulai lengang, hanya satu dua kendaraan lewat memecah kesunyian. Sementara itu, remang-remang lampu bohlam 5 watt di angkringan menambah suasana temaram kampung kecil itu.

IMG_20150206_110018

Dukuh Kuwiran, sama seperti kebanyakan dukuh lain di sekitarnya telah ditinggalkan anak-anak mudanya, menyisakan orang-orang tua dan anak-anak. Mereka merantau ke kota; Jakarta, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lainnya, untuk mengejar hidup yang lebih baik. Tak banyak memang yang bisa dilakukan di kampung kecil itu, sumber daya alam yang terbatas, serta sawah-sawah sempit yang bergantung pada kemurahan hati Tuhan menurunkan hujan. Selain itu, hanya menyisakan sedikit lapangan pekerjaan, itu pun jenis pekerjaan yang memerlukan otot dan kulit yang tahan panas, bukan jenis pekerjaan dengan setelan necis dan ruangan dingin ber-AC.

Setahun sekali, pada saat lebaran tiba, kampung kecil itu akan rejo kembali, semua anak-anak muda sowan pada Ibunya, membawa serta hasil kerja keras mereka selama satu tahun dan menghapus penat riuhnya kota. Wajah-wajah lama terlihat kembali, senyum bahagia tersungging di setiap bibir, dan cerita-cerita mereka di rantauan menjadi topik seru yang tak membosankan meskipun telah diceritakan berulang-ulang. Maka, kampung kecil itu pun gemerlap seperti kota-kota yang telah didatangi anak-anak mudanya.

Namun hal itu tak berlangsung lama, setelah lebaran usai, maka anak-anak muda itu akan kembali ke peraduannya, melanjutkan hidup mereka di kota. Meninggalkan kampung kecil itu dalam sepi, seperti sedia kala.

Beberapa anak muda itu tak pernah kembali lagi, mereka telah menjadi anak yang hilang. Layaknya Malin Kundang, mereka tak hendak kembali menemui ibunya yang miskin dan renta.

Sementara, beberapa kembali pulang, saat telah habis masanya, atau saat kota telah menolaknya. Tapi sang Ibu tak pernah mengutuk anaknya, tangannya selalu terbuka untuk anak-anaknya yang telah dicampakkan oleh kota. Karena kemana pun si anak pergi, akan selalu ada tempat untuk pulang.

Jakarta, 12 April 2015, sembari lagi Sigur Ros – Saeglopur (Lost Seafarer) mengalun.

Foto : Dukuh Kuwiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s