Sepeda..Kring..Kring…

Cuaca Sabtu pagi minggu lalu di Jakarta begitu cerah, setelah malam sebelumnya diguyur hujan dengan lebatnya. Terbangun dari tidur, saya pun menguatkan niat untuk menjalankan rencana yang sudah saya pikirkan beberapa hari belakangan.

Rencananya adalah saya ingin membeli sebuah sepeda, ya sebuah sepeda kayuh yang akan saya gunakan untuk mengarungi hutan beton ibukota.

Sebenarnya rencana saya membeli sepeda sudah lama terngiang-ngiang di benak, agar badan bisa berolahraga pikir saya, karena rutinitas di kantor membuat badan saya kurang bergerak, akibatnya saya mudah merasa capek, ditambah makanan-makanan yang disajikan saat rapat membuat perut makin membuncit, menjadikan saya terlihat seperti korban busung lapar saja.

Bicara tentang belanja, tentu tak terlepas dari budget yang kita anggarkan. Rencana awal, saya tertarik dengan sepeda cap Polygon Heist 1.0, sebuah sepeda hybrid, dengan harga 2 juta kurang sedikit, harga yang masuk akal menurut saya untuk sebuah sepeda.

Rencana saya membeli sepeda mulai diketahui rekan-rekan kerja saya di kantor, karena beberapa kali saya membuka-buka situs sepeda. Tak disangka tak dinyana, ternyata di ruangan saya ada yang telah menggeluti hobi sepeda sebelumnya, mereka adalah Bli Made Krisna dan Mas Didied Sarapan Pagi. Racun-racun pun mulai disuntikkan seiring saya mengorek informasi tentang sepeda dari mereka. Selain jadi tahu bagaimana memilih sepeda yang bagus, saya juga mengenal istilah-istilah baru, macam group set, shifter, derailleur, seat post, stem, handle bar, dan juga cap sepeda dengan harga-harga yang naudzubillah, sebut saja Mosso, Giant, atau pun Specialized.

Bli Made, yang mempunyai Polygon Xtrada 5.0, memberikan kesaksian atas sepeda yang dibeli saat menjalani pendidikan magister’nya di Jogja itu. Kesimpulannya adalah, pertama dan yang paling penting, “Jangan membeli sepeda cap Polygon, karena itu sepeda sejuta umat, mbok sebagus-bagusnya, semahal-mahalnya Polygon to, tetep saja aku ndak bangga makenya”, begitu ujarnya. Lalu kedua, “Budget’mu yang dua juta itu mbok dinaikin, naik sepeda itu bukan asal nggenjot saja, tapi kita nyari kenyamanan juga”, saya pun cuma manthuk-manthuk saja mendengarnya.

Dari kesaksian Bli Made saya mulai mikir-mikir lagi untuk meminang Heist 1.0.

Dan benar saja, angan-angan saya akan Heist 1.0 luluh lantak setelah Mas Didied Sarapan Pagi, yang ternyata pengguna Heist menyatakan ketidakpuasan atas sepeda yang telah dipunyainya selama 4 tahun itu. “Heist itu frame’nya berat, dan ukurannya juga terlalu bongsor untuk postur tubuh seperti kita ini, karena dia semi balap, posisi badannya pun terlalu membungkuk.”, ujar Kepala Seksi lulusan Australia yang postur tubuhnya sebenarnya nggak mirip-mirip amat dengan ukuran badan saya itu. “Kamu to lebih baik nyari sepeda second hand dulu aja, nanti kalau bosan tinggal diupgrade saja, memang mungkin jatuhnya sama kaya sepeda baru, cuma pasti ada kepuasan tersendiri.” Imbuhnya

Saya pun mencoba berpaling ke sepeda lain, di tengah kebingungan saya, datanglah wangsit dari Bli Made, “Wis to kamu cari aja United Dominate atau Thrill Agent, dijamin manteb tuh, framenya terlihat kokoh, speknya juga oke!”, saran pria asli Denpasar yang fasih berbahasa Bali itu.

Saya pun mulai mencari informasi tentang sepeda-sepeda tersebut, dan ternyata wangsit dari Bli Made terbukti tok cer, United Dominate & Thrill Agent, sepeda MTB yang bentuk frame’nya aduhai semlohai, ndak pasaran, dan yang paling penting speknya ndak malu-maluin. Tapi eh tapi setelah mengecek price tag’nya saya pun tersenyum kecut, karena untuk seri terendahnya saja Thrill Agent TR 1.0 dibanderol dengan harga sebesar 3,7 juta, sementara United Dominate tak mau kalah mahal dihargai 4,2 juta, over budget lah saya Bli.

Saya adalah tipe orang yang tidak anti dengan barang second hand, toh barang yang kita beli akan jadi barang second hand saat itu juga bukan. Saya pun mencoba mengobrak-abrik situs jual beli online macam kaskus, olx, dan berniaga. Terdapat beberapa sepeda dijual dengan harga yang oke, tapi sayang seribu sayang banyak orang tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, terbukti hampir semua sepeda-sepeda berharga oke tersebut sold out, menyisakan sepeda second hand lainnya dengan harga yang bikin misuh.

Gagal di dunia maya, Sabtu itu pun saya mencoba peruntungan di Pasar Rumput, pusat penjualan sepeda baru maupun second hand, siapa tahu nasib baik di pihak saya. Dengan badan segar sehabis mandi, saya pun segera memancal si biru Smash SR, si gesit irit yang sudah jatuh bangun dengan saya sejak 2005 itu.

Sampai di Pasar Rumput, saya melihat-lihat beberapa lapak sepeda bekas. Berbagai macam sepeda dipajang, mulai dari sepeda yang bener-bener rongsok, sampai sepeda-sepeda gagah perkasa yang harganya kurang ajar. Lha bagaimana nggak kurang ajar, sepeda cap Giant bekasnya saja dihargai 6-13 juta, sepeda cap Fuji dihargai 10 juta, dan sepeda cap Mosso dihargai 12 juta, cuuuk, ndak misuh gimana kalau gitu.

Saya kembali melihat-lihat ke beberapa toko, memang ada yang menjual Thrill Agent baru, hanya saja yang tersedia hanya versi Tabibitho, dan itu sepeda untuk anak SMP.

Kembali ke jalanan, saya menanyakan pada seorang mas-mas, yang belakangan saya ketahui bernama Herman, “Ada Wim Cycle Thrill Mas?”, “Oh ada Mas, warna hitam, kalau mau dilihat dulu barangnya Mas.” Dan saya pun digiring ke lapaknya untuk melihat sepedanya.

Kesan pertama melihatnya, barang masih dalam konsidi yang lumayan oke, hanya sayangnya spare part yang dipakai sudah bukan spare part asli bawaan Thrill Agent, terlihat juga beberapa bagian terdapat bekas repainting yang kurang rapi. Harga dibuka di 2,5 juta dengan rear derailleur, handle bar, crank, udah nggak jelas apa pabrikannya, untuk front derailleur pakai Shimano Acera, rem cakram mekanik depan belakang cap Zoom, stem cap Nuke Head, dan shifter kacrut cap Shining. Setelah saya hitung-hitung, kalau saya mau mengganti part-part sepeda tersebut dengan part yang oke, paling tidak saya harus nambah sekitar 3 jutaan, wah rugi saya. Saya pun menawar di harga 2 juta, namun si penjual tak bergeming sama sekali. Kebetulan di situ ada beberapa sepeda bekas juga, maka penawaran pun saya ubah, “Mas, saya mau 2,5 juta, cuma rear derailleur, handle bar, sama crank’nya diganti sama punyanya Specialized ini ya, kalau ndak mau ndak jadi deh.” Tawar saya mengancam.

Mas Herman, yang katanya di kampungnya lebih dikenal dengan Acay itu pun berpikir-pikir, sampai akhirnya dia mengiyakan tawaran saya tersebut. Lalu sepeda Thrill warna hitam tersebut dioplos, rear derailleur diganti dengan Shimano Diore, crank diganti dengan Shimano Alivio, handle bar saya mau diganti dengan handle bar’nya Specialized, dan voila, jadilah oplosan sepeda yang lebih mematikan daripada lagu dangdut oplosan yang sempat tenar beberapa waktu lalu.

Tak lengkap rasanya hanya sepeda tanpa asesoris, saya pun menambah lampu depan belakang, kunci gembok pengawan, standar, bel sepeda, pompa angin, dan tak lupa helm untuk keselamatan, total 3 juta lebih saya habiskan untuk sepeda baru saya yang second hand.

Setelah stel sana-sini, akhirnya sepeda pun siap diajak mengarungi kerasnya jalanan ibukota. Jika nanti kalian melihat saya di jalanan, jangan lupa menyapa saya ya, kring…kring….kring….

IMG_20141226_130647

IMG_20141226_130826

IMG_20141226_130726

IMG_20141226_135017

IMG_20141226_130714

IMG_20141226_130701

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s