Khotbah Jumat

Jumat itu terasa menyengat, di bulan November harusnya musim penghujan telah tiba, namun terik matahari masih sama  dengan bulan-bulan sebelumnya. Kebetulan saya sedang mengikuti rapat di daerah Mangga Dua kala itu, dimulai dari pagi sampai tepat pukul 11.30 ketika Pak Bos menskors rapat sementara untuk sholat Jumat, karena sayup-sayup sudah terdengar murottal dari masjid.

Jalan di depan masjid disulap menjadi pasar kaget, berbagai macam dagangan dijajakan, mulai dari pakaian muslim, pernak-pernik asesoris, sampai obat-obatan yang katanya dari Papua ada, dan bahkan tangkur buaya pun tersedia. Satu yang menarik perhatian saya, terdapat lapak yang ramai sekali dikerumuni orang, setelah saya coba lihat, ternyata lapak tersebut menjual batu akik. Nampaknya memang orang-orang sedang gandrung dengan batu akhir-akhir ini.

Setelah mengantri wudhu, saya pun masuk ke dalam masjid yang penuh sesak, perlu beberapa waktu sampai saya menemukan ada tempat yang kosong. Setelah melompati beberapa orang, saya pun duduk untuk mendengarkan khotbah jumat.

Khotbah pertama terasa biasa saja, disajikan dengan logat Betawi yang kental, khotbah Jumat kali ini sama seperti khotbah-khotbah Jumat yang lainnya, bahkan beberapa orang di barisan saya terlihat tertidur pulas.

Setelah beberapa lama khotbah pertama selesai, memasuki khotbah kedua, tiba-tiba intonasi sang Khotib menaik.

“Saudara-saudara, apakah Anda ingin Jakarta dipimpin oleh orang kafir, dipimpin oleh setan?”

“Salah siapa kalau Jakarta sampai dipimpin oleh setan? Salah kita semua Saudara-saudara, karena kaum muslimin tidak merapatkan barisan. Salah kaum muslimin semua yang dahulu waktu pilkada pilih Jokowi-Ahok, sekarang coba lihat jadinya.”

Intonasi Sang Khotib mulai lebih tinggi lagi.

“Lihat gayanya, baru Plt. Gubernur saja gayanya sombongnya minta ampun, tata kramanya nggak ada sama sekali, bacotnya ngomong sesukanya, kaya nggak pernah makan bangku sekolahan aja.”

“Maka dari itu Saudara-saudara, hari Senin esok, tepat pada tanggal 10 November, tepat saat Hari Pahlawan, saya ajak Saudara-saudara sekalian untuk melakukan aksi damai dari Bundaran HI ke Kebon Sirih, kita tolak Ahok diangkat jadi Gubernur.”

“Nggak ada kekerasan, cukup aksi damai, kalau ada kekerasan, pasti itu ulah penyusup, jadi harus harus kita awasi sama-sama!”

Suasana dalam masjid hening, beberapa orang di barisan saya yang tertidur sebelumnya terlihat sudah bangun.

342119_620

“Saudara-saudara, saya tahu kalau hari Senin depan adalah hari kerja, tapi ingatlah dulu ketika Sultan Fatahillah menakhlukan Sunda Kelapa tidak mengenal hari kerja!”

“Saudara-saudara, jihad tidak mengenal hari libur, kalau Saudara-saudara sekalian keberatan untuk melakukan jihad, jangan-jangan jika hidup di jaman penjajahan dulu, Saudara-saudara sekalian hanya akan menjadi pengkhianat bangsa!”

“Saudara-saudara, sekali lagi saya himbau untuk hari Senin, kita lakukan aksi damai menolak Ahok menjadi gubernur DKI. Kita kumpul di Bundaran HI, jalan kaki sampai ke Kebon Sirih, kita turunkan Ahok sama-sama!”

“Jangan sampai DKI dipimpin oleh orang kafir!”

“Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar….!”

Takbir tersebut mengakhiri kutbah Sang Khotib. Suasana di dalam masjid masih hening, beberapa tersenyum simpul, sementara di luar hari semakin menyengat saja.

“Argo Parahyangan, antara Bandung-Jakarta”

14 November 2014

Foto oleh tempo.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s