Kerja

Hidup itu cuma sekali, tak perlu menyiksa diri dengan pekerjaan yang tidak kau suka.

Pekerjaan memang kebutuhan dan keharusan, apalagi buat mereka yang mengaku sebagai laki-laki. Nganggur itu nggak enak sekali, kecuali memang kalo nganggur digaji, meskipun itu juga kurang terlalu nikmat menurut saya. Tapi ya bekerja memang membutuhkan komitmen dan pengorbanan, mulai dari tenaga, pikiran, dan tentu, waktu. Dulu saat jaman kuliah, saya adalah makhluk nocturnal, siang tidur, malam bergadang. Sekarang, saat saya sudah bekerja, hal seperti itu bukannya tidak bisa saya lakukan, bisa sebenarnya, tapi tentu ada pertimbangan bahwa esok saya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap tugas saya di kantor. Beberapa teman saya masih melakukan gaya hidup ala anak kampus tersebut, tentu itu pilihan mereka, badan memang masih muda, capek jarang terasa, tapi percaya deh, tabungan jasmani itu mahal harganya.

Bekerja tidak sesuai dengan passion kita memang seperti diperkosa rasanya. Setiap pagi berat rasanya untuk hanya sekedar menguatkan niat membuka mata atau sekedar menyunggingkan senyum kepada diri sendiri. Ditambah, waktu lambat sekali berjalan, lambat sekali. Di saat seperti itu, keluh seolah terasa sebagai penawar gundah, namun sebenarnya merengkuh kita lebih jauh ke dalam lubang hitam ketidaknyamanan. Mungkin hanya dentang waktu pukul 5 yang bisa membuat lega.

Setahun yang lalu, itulah yang saya rasakan, saat saya diromusha oleh sebuah KAP di bilangan Menteng. Berangkat jam 7, masuk akuarium penuh data, kalau beruntung jam 9 pulang, sampai jam 1 sudah biasa. Dan kemarin teman sebangku SMA saya, saya rasa, sedang berada di posisi saya. Dia baru saja bekerja selama seminggu di sebuah perusahaan otomotif yang bertanggungjawab terhadap macetnya ibukota, dan dia bilang ke saya bahwa dia berniat keluar. Saya pun karena kurang asupan dari motivator, hanya tertawa dan memakinya saja saat dia bilang mau keluar. Namun, sebagai teman yang baik, saya pun melakukan apa yang semua teman yang baik lakukan : menasehatinya supaya tidak keluar kerja.

Saya (sok) tahu apa yang dia rasakan, karena memang bekerja tidak sesuai dengan passion kita itu ndak enak sekali, apalagi kali pertama bekerja, peralihan dari kehidupan kampus yang santai dan suka-suka, jeglerrr, tiba-tiba berubah dengan keteraturan yang membosankan dan mengikat. Ditambah teman saya ini hijrah dari kota “sesemrawut” Jogja menuju “damainya” Jakarta, bisa dibayangkan rasanya. Maka saya cuma bisa bilang ke dia, ” Kamu itu baru adaptasi, coba nikmati dulu saja, sebulan dulu mungkin, kalau masih ndak suka keluar saja.”

jobsintownlifeistoshort7life-too-short-for-the-wrong-job-4 0405

Hidup cuma sekali, tak perlu menyiksa diri  dengan pekerjaan yang tidak kita suka. Memang terkadang, proses adaptasi itu butuh waktu, dan yang ada, lebih sering tidak enak daripada enaknya, tapi itulah hidup,terkadang pahit, langsung ditelan saja, urusan muntah belakangan. Semua bisa manis kalau kita menambahkan sebuah bumbu yang bernama syukur, dan rasa syukur yang paling sederhana menurut saya adalah tersenyum pada diri sendiri. Jadi mari kita tersenyum, OK!

zooey-deschanel-smile-6046

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s