Lewat Djam Malam, Pondasi Perfilman Indonesia

“Kepada mereka yang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan nyawa mereka, supaya kita yang hidup pada saat ini dapat menikmati segala kelezatan buah kemerdekaan. Kepada mereka yang tidak menuntut apapun buat diri mereka sendiri.”

Malam ini saya dan kamerad saya, Suharjono, berkesempatan menonton film berjudul Lewat Djam Malam (After The Curfew), sebuah masterpiece karya Bapak Perfilman Indonesia, Umar Isma’il produksi tahun 1954, di XXI Plaza Senayan.

Dengan format hitam putih, Lewat Djam Malam mengisahkan seorang bekas pejuang, Iskandar, yang baru kembali dari gerilyanya di gunung, dan mencoba kembali ke kehidupan masyarakat pada umumnya. Namun ternyata keadaan masyarakat telah begitu asing baginya dan ia terus dihantui oleh kenangan sebuah keluarga yang dibunuhnya saat masa pejuangan dahulu.

Setting film ini berada di kota Bandung pada tahun 1949, dan hanya berlangsung selama 2 hari. Dimulai dari jejak langkah Iskandar menuju rumah tunangannya , Norma, dimana dia dikejar-kejar oleh Polisi Militer karena melanggar jam malam. Esok harinya ia dimasukkan ayah Norma lewat kenalannya, untuk bekerja di Kantor Gubernur, namun dia tidak betah dan cekcok dengan atasan dan rekan seruangannya, sehingga dia dipecat di hari pertamanya bekerja. Kemudian ia minta tolong ke seperjuangannya, Gafar, yang sudah jadi pemborong, namun dirasa olehnya kurang cocok juga. Tak habis akal, ia mencari atasannya dahulu, Gunawan, yang telah sukses dengan bisnisnya, namun Iskandar tidak suka dengan cara berbisnis Gunawan yang begitu kotor baginya. Apalagi setelah ia bertemu dengan anak buahnya semasa perjuangan dahulu, Puja, seorang mucikari di sebuah rumah bordil, yang bercerita bahwa modal dari usaha Gunawan  ternyata berasal dari keluarga yang dibunuh oleh Iskandar dahulu. Tak tenang hatinya, Iskandar pun lari dari pesta penyambutan yang diadakan oleh Norma, dan mengajak Puja untuk membuat perhitungan pada Gunawan.

Namun setelah dia membunuh Gunawan, semua orang di sekitarnya seolah cuci tangan dan menyalahkan semua perbuatan pada Iskandar. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa satu-satunya orang yang setia terhadapnya adalah Norma, tunangannya yang setia menunggunya. Namun naas, saat ia ingin menemui tunangannya itu, jam malam telah dilanggarnya sehingga berujung ia tertembak oleh polisi militer.

Keunggulan film ini yang tidak bisa kita temui dalam film-film jaman sekarang adalah karakter-karakter dalam film ini mewakili karakter-karakter dasar manusia pada umumnya, misalnya Iskandar, ia seorang pemuda idealis yang tak rela menjual idealismenya demi apapun; Gafar, seorang yang realistis namun ia bersedia mengesampingkan idealismenya; Puja, sosok orang yang maunya enaknya saja; Gunawan, tipikal pengusaha yang akan melakukan apa saja yang menghalangi langkahnya, dan Laila, seorang pelacur delusional yang memimpikan untuk mempunyai keluarga harmonis, namun hanya menunggu dan tak mau berusaha untuk merubah nasibnya.

Di akhir film, tedapat kata-kata penutup yang menyentuh sekali :

“Kepada mereka yang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan nyawa mereka, supaya kita yang hidup pada saat ini dapat menikmati segala kelezatan buah kemerdekaan. Kepada mereka yang tidak menuntut apapun buat diri mereka sendiri.”

In conclusion, film ini begitu apik dan layak sekali ditonton, namun sayang film ini hanya diputar terbatas di beberapa bioskop di Indonesia, dan itupun berpindah dari kota satu ke kota lain. Inilah karya anak bangsa yang sesungguhnya, kalau bokep-bokep nanggung yang sekarang marak beredar di bioskop? Aaah, itu kan karya orang India.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s