Srikandi Senopati

Terkisahkan di Hastinapura, Prabu Duryudana bimbang atas keputusannya menantang Pandawa dalam Perang Besar Bharatayuda. Mendengarnya, Resi Bisma, yang merupakan kakek dari Kurawa dan Pandawa menasehati bahwa Duryudanalah yang telah memulai perang dan sebagai kesatria dia tidak boleh menarik kata-katanya.

Para petinggi Hastinapura pun ramai menghadap, Pandita Durna; guru para Kurawa dan Pandawa; Prabu Salya; Paman dari Kurawa dan Pandawa;  Prabu Karna dan juga Patih Sengkuni saling berunding rembug tentang Bharatayuda. Sampai pada akhirnya disadari bahwa pihak Kurawa belum mempunyai Senopati yang mumpuni saat itu. Maka Resi Bisma mengajukan diri menjadi Senopati, lalu disusul Pandita Durna dan Prabu Salya dengan sukarela bersedia menjadi senopati apit bagi Resi Bisma.

Dalam Bharatayuda Resi Bisma berikrar :

“…….ketahuilah pantanganku ini, bahwa aku tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua aku enggan bertarung…”

Begawan Durna heran terhadap sikap Resi Bisma yang membela Kurawa, padahal dia tahu bahwa Kurawa lah pihak yang jelas-jelas telah mengingkari janji dan Pandawa telah memenuhi hukuman pengasingan di hutan selama 12 tahun dan 1 tahun dalam persembunyian. Dengan bijaksana Resi Bisma menjawab bahwa dia semata-mata membela Kurawa karena di pihak Pandawa terdapat Prabu Kresna, yang merupakan titisan Bathara Wisnu, dan dimanapun terdapat Kresna maka di situ ada keberuntungan. Selain itu Pandawa juga memiliki Semar sebagai penasihat. Dia hanya ingin berlaku adil terhadap cucu-cucunya, bukan berarti bahwa dia menyetujui sikap angkara dan perlakuan Kurawa terhadap Pandawa

.

Maka berangkatlah para Senopati dan prajurit-prajuritnya ke Palagan Kurusetra dengan gagah berani. Disetujui bahwa Bharatayuda hanya boleh dilakukan pada siang hari, sementara saat malam perang harus dihentikan.

Perang berlangung dengan dahsyatnya, balatentara Kurawa menyerang laksana gelombang lautan yang menggulung-gulung, sedang pasukan Pandawa menyerang dengan dahsyat seperti senjata yang menusuk langsung ke pusat kematian. Senjata-senjata saling beradu, mayat-mayat berguguran mengharumkan bangsa, darah mengalir menganak sungai.

Prabu Setyaki beradapan dengan Arya Burisrawa, pertarungan berlangsung sengit dan seimbang, senjata gada saling terayun, adu kesaktian, namun pada akhirnya Arya Burisrawa harus mati meregang nyawa.

Gatotkaca sang putera Wrekudara, dengan kesaktiannya membantai siapapun yang ada di depannya, membuat ciut nyali siapapun yang berhadapan dengannya.

Para raksasa dari pihak Kurawa mengobrak-abrik pasukan Pandawa, hanya Wrekudara, sang panglima perang, yang bisa mengatasi the real bad-ass dari pihak Kurawa.

Sementara Arjuna berhadapan dengan Susarman, raja Kerajaan Trigarta, yang diliputi dendam kesumat karena kerajaannya dahulu ditaklukan Pandawa saat upacara Rajasuya. Pertarungan keris antara keduanya berlangsung seru, namun pada akhirnya Arjuna bisa mematahkan lengan Susarman dan membunuhnya.

Saat di pihak Kurawa mempunyai Bisma sebagai senopati, di pihak Pandawa Prabu Utara dan Prabu Wratsangka, putera Raja Wirata, dengan sukarela bersedia menjadi senopati, karena merasa hutang budi dengan Pandawa pada saat Kerajaan Wirata diserang Hastinapura dahulu, Pandawalah yang membantu menyelamatkan Kerajaan Wirata.

Dengan gagah berani Prabu Utara dan Wratsangka berhadapan dengan Resi Bisma, pertarungan berlangsung imbang. Namun karena Resi Bisma sendiri diserang bersamaan maka Resi Bisma sempat terdesak. Melihat Resi Bisma terdesak, Pandita Durna dan juga Prabu Salya sebagai senopati apit melepaskan senjata mereka menyerang Prabu Utara dan Wratsangka, gugurlah kedua ksatria tersebut membela nusa bangsa.

Mengetahui senopati mereka gugur, pihak Pandawa pun dengan berat hati mengabarkan hal tersebut pada Prabu Wirata, ayah dari Prabu Utara dan Wratsangka. Prabu Wirata pun diliputi kesedihan dan amarah dan ingin segera menuju medan perang untuk membalas dendam. Namun Prabu Kresna bisa menenangkannya. Prabu Wirata pun akhirnya dia menyuruh Pandawa untuk memanggil kakak dari Prabu Utara dan Wratsangka yang sedang bertapa, Arya Seta. Pada awalnya Pandawa menolak karena hanya tinggal Arya Seta satu-satunya putera Prabu Wirata yang tersisa, namun Prabu Wirata bersikukuh bahwa hutang budi dibawa sampai mati. Karena keteguhan hati Prabu Wirata, para Pandawa pun tak kuasa menolaknya.

Pandawa pun mengutus Petruk dan Bagong untuk menyampaikan kabar kematian Prabu Utara dan Wratsangka kepada Arya Seta di pertapaannya.

Mengetahui bahwa kedua adiknya telah gugur, Arya Seta segera turun dari pertapaannya menuju ke palagan untuk mencari Resi Bisma. Semua musuh yang ditemuinya dibantai dengan senjatanya Gada Lukitapati, menghantarkan pati bagi siapapun yang mendekatinya.

Bahkan Arya Seta juga membunuh Raden Rukmarata, putera Prabu Salya yang notabene hanya datang untuk melihat Bharatayuda berlangsung, namun saat itu ikut menyerang Arya Seta.

Akhirnya pertarungan hebat terjadi antara kedua ksatria ini, Arya Seta dengan Gada Lukitapatinya dan Resi Bisma dengan segala kesaktiannya.

Diserang Arya Seta dengan membabi buta, Resi Bisma sempat kewalahan dan terpojok sampai ke Sungai Gangga. Di situ dia bertemu dengan ibunya, Dewi Gangga, yang kemudian memberinya senjata cundrik.

Dengan senjata cundrik pemberian ibunya, Resi Bisma berhasil mengalahkan Arya Seta. Bersandarkan Gada Lukitapatinya, Arya Seta gugur dengan keadaan berdiri di tengah palagan. Resi Bisma pun menghormatinya dengan menyatakan bahwa kematian Arya Seta tidak sia-sia dan merupakan cara mati seorang kesatria, berjuang demi nusa bangsanya.

Mengetahui Resi Bisma telah membunuh semua putera Prabu Wirata dan memporak-porandakan pasukan Pandawa, kesabaran Prabu Kresna habis. Dia berubah menjadi wujud raksasa yang menyeramkan. Resi Bisma hanya pasrah saja dan dengan senang hati tidak akan melawan dan rela mati di tangan sang Kresna, sang avatara. Namun, Arjuna mengingatkan bahwa Kresna telah benjanji tidak akan turun tangan dalam Bharatayuda. Maka, Prabu Kresna pun mengurungkan niatnya dan kembali ke wujud semula.

Perundingan pun terjadi di pihak Pandawa untuk memilih senopati yang baru, karena semua senpatinya telah gugur di tangan sang Resi. Para Pandawa menolak karena mereka tidak ingin melawan kakek mereka sendiri. Kresna pun memberi saran bahwa Srikandi lah yang harus menjadi senopati, karena Resi Bisma pantang untuk melawan wanita. Pada awalnya Arjuna, suami Srikandi keberatan, namun setelah dijelaskan oleh Kresna akan janji Arjuna saat sayembara untuk memengkan Srikandi dahulu dan atas desakan Srikandi sendiri, akhirnya Arjuna bisa dengan ikhlas mengizinkan Srikandi untuk diangkat menjadi senopati.

Pada awalnya Resi Bisma menolak untuk melawan Srikandi, namun karena diserang terus menerus, Resi Bisma pun membalas serangan Srikandi. Sang Resi lebih unggul dalam tingkat  kenuragan dan kemampuan dalam menggunakan senjata, maka Srikandi dijadikan bulan-bulanan oleh sang Resi Bisma. Saat terdesak datanglah Dewi Amba, yang dibunuh oleh Resi Bisma, merasuk ke dalam diri Srikandi dan memberi sebuah cupu manik.

Saat mengetahui cupu manik tersebut, Resi Bisma pun teringat akan janjinya dengan Dewi Amba yang akan menjemputnya suatu saat nanti. Maka Resi Bisma pun mengatakan pada Srikandi bahwa dia tidak akan melawan lagi, dan tidak akan menghindar bila diserang.

Maka dilepaskanlah senjata Srikandi, beratus-ratus anak panah menancap di tubuh Resi Bisma, hingga pada saat panah terakhir Srikandi dilepaskan, rubuhlah tubuh Resi Bisma.  Namun Bisma tidak gugur seketika karena ia adalah seorang wasu yang diberi anugerah oleh para dewa sehingga dia boleh menentukan waktu kematiannya sendiri.

Resi Bisma terbaring di tengah palagan dengan ratusan panah menancap di tubuhnya, pihak Pandawa dan Kurawa pun mendatangi kakek mereka untuk memberikan penghormatan. Resi Bisma  meminta sebuah tempat untuk berbaring sehingga bisa melihat jalannya Baratayuda. Duryudana menyuruh Sengkuni untuk mencarikan tempat berbaring, Sengkuni pun membawakan sebuah tempat pembaringan mewah namun ditolak oleh Resi Bisma. Akhirnya Arjuna mengumpulkan patahan-patahan senjata dan diikat menjadi sebuah alas bagi Resi Bisma. Dan Resi Bisma juga meminta air minum karena dia haus, Duryudana pun menyuruh Sengkuni untuk mencarikan air minum, dibawakanlah minuman keras oleh Sengkuni, sekali lagi Resi Bisma menolaknya. Resi Bisma marah pada Kurawa karena dalam medan perang pantang bagi kesatria untuk bermewah-mewah dan bersenag-senang. Diapun menyuruh Arjuna untuk membawakan air untuk mencuci senjata sebagai minumannya. Resi Bisma pun akhirnya menyaksikan kejayaan Pandawa dan meninggal di hari dimana Baratayuda berakhir.

20 April 2012, Lapangan Blok S, dhalang Ki Manteb Sudarsono.

Foto by me.

Video by Mas Witrikarno Basuseno.

12 thoughts on “Srikandi Senopati

    • Wa siiip2 matur suwun masbro,
      ayo kapan2 kalo ada pertunjukan wayang kita nonton bareng, hhe
      Wisanggeni itu setahuku namanya berasal dari Bisa dan Anggeni, atau racun dan api,
      Kalo yang aku tangkap sikapnya mirip2 sama Werkudara blak2an, selalu pake basa ngoko sama siapapun, dan juga sakti mandraguna, bahkan saking saktinya dia dan sepupunya antasena disuruh untuk bunuh diri sebagai tumbal kemenangan Pandawa oleh Kresna, karena kalau mereka ikut baratayuda, cuma mereka berdua yang maju pun pandawa bisa menang, itu yang saya tahu, kalo ada yg salah mohon dikoreksi, hhe

  1. mbien aku tau nonton wayang neng daerah jombang tangsel, pas pilkada tangsel…welek dab, ra koyo neng daerah…haha ono kancane aku jebule sama2 penggemar wayang, neng kamar kosku kae mbien tak pajang wayang punakawan asli kulit dab

    • Woke Mas Dab,nguri2 budaya Jawa,
      Na Jakarta sering kok pertunjukan wayang, dhalange yo kondhang2, nek nonton ketemu wong jawa kabeh, hha
      Na FB group’e jenenge Sutrisna Ringgit Purwa, gabung wae Mas Dab,
      Saiki jarang je cah enom seneng wayang, kalah karo korea2an, padahal apik pwoool, akeh piwulange,
      Aku arep tuku wayang asli na kene laran gtenan je, mending golek na ngomah luwih akeh & hargane lebih murah, hhe

      • haha, io dab…dewe termasuk golongan langka
        eh kenal pak ismoyo sejati?? mbien dosenku makroekonomi, blog’e apik dab okeh tulisan tentang wayang http://sedjatee.wordpress.com/ nanging saiki wes jarang update blog maneh.
        eh nak pengen tuku buku wayang (non pakem) tak saranke buku “perang” karangan putu wijaya, opo “anak bajang menggiring angin” karangan sindhunata,
        tuku dab, mengko aku nyilih…hahahaha

      • Wkwkw, mulakmen aku pengen menyebarkan semangat budaya nonton wayang masbro, kanca2ku cah perben tak ajaki nonton wayang, sing seneng ternyata ya lumayan akeh,
        Wah ga ngerti aku Pak Ismoyo, tapi tau krungu, blog’e apik dab,
        Wooh, buku2ne ketoke menarik kuwi, sukmben lah nek ana rejeki coba2 tuku, hhe

  2. Wah jian mantep tenan Mas Cahya. Waktu itu sebenarnya saya juga mau berangkat nonton pentas Ki Manteb Srikandhi Senopati ini lho Mas. Wong lapangan Blok S dekat banget sama rumah. Tapi waktu itu kl gak salah sebelum mulai kan hujan deres, pengalaman kl habis hujan lapangan Blok S becek banget. Akhirnya saya mengurungkan niat gak jadi berangkat. Akhirnya nyesel sekarang soalnya kata teman yang nonton bagus banget. Terakhir saya nonton Ki Manteb di Bekasi tglnya lupa, lakonnya Rubuhan (Duryudono Gugur). Wah bener2 buagus Mas. Nggak rugi jauh2 nonton ke Bekasi hehehe…. Kapan2 kl ada pentas Ki Manteb moga2 bisa ketemu ya. Wassalam

    • Terima kasih Mas Hendro,
      Iya waktu itu hujan, jadi agak becek, tapi worth it lah sama pertunjukan yang disajikan Ki Manteb, bener-bener oye mas, hhe
      Kalo pengen lihat jadwal manggngnya gabung aja mas di group FB, nama groupnya PSMS Oye, di situ update jadwal pagelaran wayang Ki Manteb.
      Iya mas, sampai ketemu di pentas Ki Manteb selanjutnya.

  3. Syukurlah ada artikel ini yang menyertakan gambar bayangan gatotkaca, soalnya saya sdg membuat wayang gatotkaca tapi bingung bagian mana saja yg perlu ditatah dan bentuknya bagaimana (maklum masih pemula dalam membuat wayang). artikel dan gambarnya sangat membantu mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s