Remah-Remah Ibukota

Rokok masih mengepul, tinggal setengah, ditandemkan dengan segelas teh penuh, utuh, masih terlalu panas untuk diseruput. Di sebuah ruangan 4×5 m lantai dua sebuah kontrakan di kawasan padat penduduk di ibukota, aku menggelinjang kepanasan. Seperti itulah kira-kira hidupku 2 minggu ini. Ritme ibukota berdetak cepat, waktu seperti sedang mengebut kejar setoran. Siang seperti tak kerasan, hanya mampir sebentar lalu pamit pulang, begitu pula malam, tak memberi cukup waktu bagi para waria menjajakan dagangannya.

Ibukota memang begitu cantik menawan, menarik anak-anaknya dari lereng gunung menghampirinya, mengadu nasib dalam belaiannya. Namun terkadang pesonanya bias, tersamarkan oleh rutinitas. Banyak orang merasa mengenalkan di siang hari, padahal kala itu Sang Ibu bersembunyi. Cobalah mengunjunginya kala dini hari, akan kau temui kecantikannya, megahnya pencakar langit yang menjamur diterangi remang-remang lampu jalan. Berdialoglah dengannya. Namun kebanyakan orang terbutakan, bukan kilauan ketenangan yang mereka cari, pantulan semu pundi-pundi emas diantara hitamnya Kali Ciliwung dan sesaknya udara Sudirman lebih menyilaukan mata mereka.

Hal-hal ini terngiang-ngiang di kepala, apakah nantinya aku juga akan terseret dalam aliran ketidakharmonisan. Sedikit menenangkan memang, mengetahui bahwa takdir akan berjalan sendirinya, kita hanya harus tegak menjalaninya.

Lontar 26, Jakarta, 31 Jan 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s