JANGAN MENGURUS SURAT TILANG ANDA MELALUI CALO?

Apa yang bakal agan lakuin waktu di jalan, terus tiba-tiba ada pak polisi nyuruh agan berhenti dan bilang, “ Selamat sore Mas, bisa tunjukan surat-suratnya!” ? Deg-degan?pasti! Hal ini akan jadi biasa saja seperti artis yang kawin cerai kalo agan sekalian waktu itu nggak melanggar peraturan lalin dan juga lengkap membawa sepasang STNK dan SIM. Namun bagaimana kalo waktu itu kita lagi khilaf juga nggak bawa salah satunya atau malah kedua-duanya?

Opsi pertama, “ Maaf Pak, saya tadi nrobos lampu merah dan SIM saya ketinggalan pak, tilang saja pak, nanti saya sidang di pengadilan negeri.”

Atau,

Opsi kedua, “ Pak damai aja deh Pak, saya mahasiswa ni Pak duitnya dikit, 20 ribu saja ya Pak, kasihan Pak, belum nerima wesel dari kampung.”

Ane yakin agan bakal lebih prefer ke opsi kedua, selain cepet bin nggak ribet, biasanya jatuhnya lebih murah daripada kalo kita berjiwa mulia dan datang sidang ke pengadilan negeri.

Nah, ceritanya ane waktu itu lagi apes sehingga ditangkep pak polisi gara-gara seenak udel sendiri belok kanan waktu lampu lalu lintas masih membara berwarna merah di deket Tugu Tani yang ada patung pak tani bawa bedil ama cangkul. Karena ane warga negara yang baik , maka ane dengan tegasnya memilih untuk sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat alih-alih bayar di tempat (padahal waktu itu lagi nggak bawa cash dan waktu mau ngambil ke ATM polisinya nggak mau, :D).

Akhirnya karena SIM ane ditahan, maka selama 2 minggu ane kemana-mana bawa surat tilang doang.

2 minggu yang berasa panjang tanpa sebuah Surat Ijin Mengemudi yang notabene berbentuk kartu akhirnya berakhir juga. Dengan nawaitu sidang pertama ane ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ane berangkat berdua dengan temen ane. Sampai di depan pengadilan bak artis ane disambut sama tukang parkir yang teriak-teriak menawarkan diri, eh, menawarkan jasa parkir.

Baru saja lepas helm, ane udah disamperin ama emak-emak setengah baya.

” Dik, mau sidang ya? Sini, kamu nggak usah sidang, saya aja yang sidang, bayarnya murah kok.”

Kaget bercampur bego karena nggak tau apa-apa, akhirnya ane menolak tawaran emak-emak tersebut dan jalan masuk ke dalam Pengadilan Negeri tersebut. Di samping pintu masuk ada tulisan gede “JANGAN MENGURUS SURAT TILANG ANDA MELALUI CALO.”, geembussss, baru beberapa langkah dari gerbang pintu masuk muncul serangan yang lebih dahsyat lagi dari calo-calo, ada yang berwujud mas-mas, bapak-bapak, emak-emak kaya yang di depan tadi, sayang nggak ada yang berwujud mbak-mbak cantik. Dengan jurus mengelak yang lihai akhirnya ane bisa menghindar dan masuk ke dalam Pengadilan Negeri setelah sebelumnya disambut dengan metal detector, siapa tahu kita iseng bawa bom ato bedil. Namun, serangan calo-calo nggak berakhir sampai di situ, di dalam masih banyak serangan calo –calo yang berkeliaran dengan bebasnya, padahal ada tulisan yang mayan gede, “PASTIKAN ANDA BERURUSAN DENGAN ORANG YANG TEPAT“, mblegedheeeeees, tulisan doang.

Selamat sampai di tempat sidang di lantai 2 ane bingung lagi, ada banyak banget orang di situ, kayaknya lagi musim kena tilang, selain itu ruangannya juga ada banyak banget. Karena berprinsip malu bertanya malu-maluin, maka ane nanya ke salah seorang yang make seragam kaya polisi di situ.

“ Maaf Pak, kalo saya mau sidang caranya bagaimana ya?”

Tak diduga tak dinyana jawaban yang dilontarkan si Bapak tadi sangatlah ketus lagi kasar.

“ Yaudah kamu ke ruangan situ dulu, suratnya kasih ke petugas yang ada di situ.”

Tok, itu titik, nggak pake embel-embel apa-apa. Beeewwwwww, ane yang ngrasa diperlakukan nggak layak gan, secara bapak-bapak tadi pelayan masyarakat, apa sih ruginya bersikap ramahan dikit, calo yang di depan aja malah lebih ramah. Untung badan ane kecil, jadi nggak ane apa-apain,  X-(

Akhirnya ane mulai mengantri, meskipun mungkin nggak bisa disebut ngantri, karena ada banyak banget orang berjubel-jubel berebutan menyerahkan surat tilangnya. Waktu itu ada ibu-ibu yang badannya kecil berusaha ngasihin surat tilangnya, jujur, ane pengen nolong gan, cuma ane takut ntar ane dikira calo, jadi apa lacur ane biarin ibu-ibu berbadan kecil tadi berjuang menyerahkan surat tilangnya sendiri.

Banyak banget surat tilangnya, ditumpuk-tumpuk, abis itu dibalik, jadi yang tadi nyerahin surat duluan bisa dipanggil duluan. Entah karena nggak punya mikrofon ato males beli mikrofon petugasnya teriak-teriak aja manggilin nama terdakwa, nah setelah nama ane dipanggil ane masuk ruang sidang bersama 100 orang lainnya, oleh hakim ane ditanya apa kesaahannya, ane jawab saja, “Melanggar lampu merah pak.” abis itu bayar 50k, nett, udah nggak bisa ditawar lagi. Namun bagi mereka yang tidak mau sidang bisa membayar sebesar 75k di luar ruang sidang. Setelah semua selesai akhirnya ane dipertemukan lagi dengan SIM satu-satunya yang ane punya.

Dari pengalaman sidang pertama ane, ane tahu bahwa ternyata sidang itu sebenernya nggak susah-susah amat, kecuali saat penyerahan berkas kita harus bener-bener fight berjubel-jubel dengan banyak orang, tapi setelah itu gampang kok. Hanya saja banyaknya calo di pengadilan mengkerdilkan imej pengadilan sebagai penegak hukum, jadi mohon itu Bapak-Bapak yang waktu itu ane tanyain, seragamnya kaya Pak Polisi, tertibin donk itu calo-calo, juga mukanya jangan nyengak gitu, bersikap ramah dikit kenapa.

Pinangga 22, Place where my communist heart meets my capitalist mind.

2 thoughts on “JANGAN MENGURUS SURAT TILANG ANDA MELALUI CALO?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s