Homoseksual

“Urip iku kan mung perkara milih.”

Kata-kata tersebut selalu terngiang-ngiang di telinga saya, karena apa yang terjadi di masa sekarang ini sebenarnya adalah rangkaian pilihan-pilihan yang kita buat di masa lampau, begitu pula pilihan di masa sekarang akan berakibat atas apa yang akan terjadi kepada kita di masa depan.

Akhir-akhir ini bahasan mengenai homoseksual begitu ramai diperbincangkan, pro dan kontra, banyak orang menyuarakan pendapatnya, komplit dengan bumbu argumen-argumen yang mendukung pendapat mereka, mulai dari dogma-dogma agama, kemanusiaan, sampai dengan hasil penelitian ilmiah yang belum tentu salah benarnya, riuh sekali.

Homoseksual memang sesuatu yang masih asing dalam budaya timur kita, bahkan bisa dianggap menjadi aib. Namun akhir-akhir ini di ibukota, saya mulai melihat kecenderungan pasangan-pasangan gay mulai menunjukkan eksistensi mereka di depan umum, kenapa hanya gay? Sederhana sahaja, karena saya lebih mudah mengenalinya daripada pasangan lesbian.

tumblr_nqkcr8mhye1tkv3afo1_1280.jpg Continue reading

Hijrah

Hijrah bukan hanya perkara berpindah tempat, hijrah juga berarti meninggalkan segala yang sudah kita bangun, untuk kemudian membangun kembali di tempat yang baru.

Akhir September 2015, setelah 2 bulan lebih saya bertugas di Pulau Nunukan, di atas speedboat Minsen Express yang membawa saya dari Tarakan menuju Nunukan, saya diberi tahu bawasanya telah terbit surat keputusan baru yang menugaskan saya untuk kembali lagi ke Jakarta. Dari pulau terluar ke pusat republik kita tercinta. Ada semacam perasaan sedih yang muncul, meskipun dalam do’a-do’a saya selalu terpanjat agar secepatnya keluar dari pulau kecil tersebut. Namun layaknya semua perpisahan, niscaya akan menimbulkan luka, sebagaimana saya membayangkan Hatta dan Sjahrir yang habis masa pembuangannya, dengan tatapan nanar meninggalkan rumah mungil yang sekaligus menjadi tempat tahanan mereka selama 6 tahun di tepian pantai di Banda Neira.

IMG-20150921-WA0020

Kehidupan saya di Pulau Nunukan akan saya ceritakan di lain waktu, namun yang pasti, selama 2 bulan di Pulau Nunukan memberikan saya banyak perspektif baru, dan sedikit merubah bagaimana saya berencana membawa hidup saya di masa depan.

IMG_20150925_231707

Terima kasih Pulau Nunukan, dan semua penghuninya, terutama keluarga besar KPPN Nunukan, atas keramahtamahan dan bantuan selama saya di sana, sungguh suatu saat nanti saya ingin berkunjung kembali ke sana, bernostalgia dengan kesederhanaan dan keindahan surga di ujung negeri ini. Saya yakin, saya akan pangling melihat bagaimana Pulau Nunukan berkembang, semoga kearifan-kearifan yang ada saat ini akan tetap terjaga sampai di masa depan. Penekindi debaya!

Jakarta, 09 Oktober 2015,

Di antara pencakar langit di Thamrin-Sudirman, 2 minggu selepas Nunukan

Gamang

Hampir dua bulan sudah saya bertugas di Pulau Nunukan, di ujung utara Kalimantan. Dan hampir dua bulan pula saya masih mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru saya yang sunyi, damai, dan berjalan lambat. Tempo hari, saya mendapat penugasan ke Balikpapan, kota minyak yang berkilau di pesisir timur Kalimantan. Bertolak belakang dengan Nunukan, Balikpapan tak ubahnya seperti kota-kota besar di Pulau Jawa yang akrab dengan segala riuh ramai jalanannya, kemacetannya, dan menjamurnya pembangunan gedung-gedung yang menjulang tinggi di tiap sudut kota. Tak lagi bisa ditemui hutan-hutan yang teduh, petani yang menggelar lapak menjajakan hasil ladangnya, atau burung-burung rawa yang menyeberang di sepanjang jalan, seperti di Nunukan.

Ada perasaan aneh yang timbul saat saya melihat pemandangan dari jendela taxi yang mengantar saya dari Bandara Sepinggan ke tempat penginapan. Ironi, ya ironi, kata yang paling cocok untuk menggambarkannya, semua menjadi terasa asing bagi saya.  Rumah-rumah saling menempel satu-sama lain bersanding dengan gedung-gedung tinggi yang angkuh, sementara itu jalanan dipenuhi manusia yang saling berebut diburu waktu. Sungguh riuh, tidak teratur, egois, dan materialistis. Pun ketika malam harinya saya masuk ke dalam sebuah mall, memandang wajah-wajah letih SPG yang memaksakan keramahannya kepada tiap orang yang lewat tidak peduli di depan booth’nya, dingin dan kaku.

Pembangunan tak selamanya ikut membangun jiwa-jiwa manusia di dalamnya. Pembangunan cenderung menggerus “kemanusian” yang telah terbentuk dari masa sebelumnya. Eksploitasi dengan dalih pembangunan merupakan sisi lain yang tak terpisahkan. Yang kuat untung, yang lemah buntung.

Setelahnya, saya membayangkan dengan gamang, Nunukan yang hilang kehangatannya, hilang identitasnya, dieksploitasi kaum-kaum kapitalis atas nama pembangunan. Akhirnya kearifan-kearifan lokal yang ada akan membatu menjadi berhala. Yang mana sepengetahuan saya hal tersebut sedang terjadi.

Dan saya pun masih duduk termangu di ruang tunggu Bandara Sepinggan, memandang tiang-tiang baja menjulang tinggi, dingin dan kaku, tak ubahnya ekspresi SPG yang saya jumpai di mall malam sebelumnya.
image

Anak yang Hilang (Akankah) Kembali Pulang

Malam mulai turun di Dukuh Kuwiran, sebuah kampung kecil yang merupakan salah satu dukuh terakhir di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah selatan. Jalan utama yang menghubungkannya dengan kecamatan tetangga mulai lengang, hanya satu dua kendaraan lewat memecah kesunyian. Sementara itu, remang-remang lampu bohlam 5 watt di angkringan menambah suasana temaram kampung kecil itu.

IMG_20150206_110018

Dukuh Kuwiran, sama seperti kebanyakan dukuh lain di sekitarnya telah ditinggalkan anak-anak mudanya, menyisakan orang-orang tua dan anak-anak. Mereka merantau ke kota; Jakarta, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lainnya, untuk mengejar hidup yang lebih baik. Tak banyak memang yang bisa dilakukan di kampung kecil itu, sumber daya alam yang terbatas, serta sawah-sawah sempit yang bergantung pada kemurahan hati Tuhan menurunkan hujan. Selain itu, hanya menyisakan sedikit lapangan pekerjaan, itu pun jenis pekerjaan yang memerlukan otot dan kulit yang tahan panas, bukan jenis pekerjaan dengan setelan necis dan ruangan dingin ber-AC.

Setahun sekali, pada saat lebaran tiba, kampung kecil itu akan rejo kembali, semua anak-anak muda sowan pada Ibunya, membawa serta hasil kerja keras mereka selama satu tahun dan menghapus penat riuhnya kota. Wajah-wajah lama terlihat kembali, senyum bahagia tersungging di setiap bibir, dan cerita-cerita mereka di rantauan menjadi topik seru yang tak membosankan meskipun telah diceritakan berulang-ulang. Maka, kampung kecil itu pun gemerlap seperti kota-kota yang telah didatangi anak-anak mudanya.

Namun hal itu tak berlangsung lama, setelah lebaran usai, maka anak-anak muda itu akan kembali ke peraduannya, melanjutkan hidup mereka di kota. Meninggalkan kampung kecil itu dalam sepi, seperti sedia kala.

Beberapa anak muda itu tak pernah kembali lagi, mereka telah menjadi anak yang hilang. Layaknya Malin Kundang, mereka tak hendak kembali menemui ibunya yang miskin dan renta.

Sementara, beberapa kembali pulang, saat telah habis masanya, atau saat kota telah menolaknya. Tapi sang Ibu tak pernah mengutuk anaknya, tangannya selalu terbuka untuk anak-anaknya yang telah dicampakkan oleh kota. Karena kemana pun si anak pergi, akan selalu ada tempat untuk pulang.

Jakarta, 12 April 2015, sembari lagi Sigur Ros – Saeglopur (Lost Seafarer) mengalun.

Foto : Dukuh Kuwiran

Salah siapa?

Setiap kata yang meluncur dari mulut si kawan itu selalu kalimat-kalimat negatif, mencerocos tanpa henti, seperti talang kostku sewaktu hujan malam tadi. “Salah si anu nih!”, “Gara-gara Pak Anu nih!”, “Gimana sih, kok bisa jadi seperti ini!”, “Geblek!” dan kalimat-kalimat negatif sejenisnya diucapkannya dengan euforia dan semangat yang menggebu-gebu.

Dari kalimat-kalimatnya tadi, tak ada satupun kalimat yang ditujukan untuk dirinya sendiri, kecuali mungkin disisipkan barang satu atau dua kali dengan pongahnya, betapa dia berusaha keras mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Padahal saya tahu betul, bahwa kepongahannya tersebut tak lebih dari mencari kambing hitam saja, dan mungkin di beberapa kesempatan, cari muka.

Mencari kesalahan memang lebih gampang daripada mencari kebaikan seseorang. Maka dari itu saya hanya tersenyum-senyum saja mendengar semua pernyataan si kawan itu. Berdebat pun tiada guna, bisa menyebabkan darah tinggi dan buang-buang tenaga saja. Untung saja si kawan tidak bertanya ke saya, kalau saja dia bertanya ke saya, maka saya pun jawab, “Salah kambing kawan, kenapa dia warnanya hitam.”

public_sector_unions_official_scape_goatScapegoat-09-16-11-400x400

Jakarta, 20 Maret 2015

Gambar by Google, Nick Galifianakis

Duit Negara, Bukan Duite Mbahmu

Kanal-kanal berita akhir-akhir ini sedang ramai dengan pemberitaan Gubernur Ahok vs DPRD DKI yang dimotori oleh H. Lulung, yang katanya mantan preman Tanah Abang itu. Sebagai wong cilik saya sedikit-sedikit mengikuti perkembangan beritanya, sambil ngopi-ngopi cantik dan duduk santai.

Mengelola keuangan negara memang gampang-gampang susah. Seperti yang sering disampaikan khotib-khotib saat Sholat Jumat, niat adalah kunci dari perbuatan, jadi kunci daripada pengelolaan negara tak lain dan tak bukan hanya masalah niat saja. Untuk gampangnya, tentu gampang saja tinggal bermodal itikad baik, jalankan saja sesuai dengan peraturan yang berlaku, maka niscaya si pengelola keuangan dapat tidur dengan nyenyak di malam hari. Sementara itu pengelolaan negara akan jadi susah jikalau terdapat itikad-itikad jahat, apalagi jika itikad jahat datang dari pejabat negara, kalau kata Abdur yang komika itu, “aduh mamak sayangeee.”

Menengok dari kasus Gubernur Ahok vs DPRD DKI, Gubernur Ahok berdalih menyerahkan APBD DKI Jakarta T.A. 2015 kepada Kemendagri hasil pembahasan paripurna dengan DPRD DKI yang dibuat melalui e-budgeting. Gubernur Ahok mencoret anggaran pengadaan UPS & lain-lain yang dianggapnya dana titipan DPRD DKI sebesar 12,1 T. Sementara DPRD DKI, tak kalah lantang, menyatakan bahwa Gubernur Ahok telah melanggar UU karena APBD yang diserahkan Ahok berbeda dengan hasil pembahasan dan tidak ada paraf anggota dewan yang terhormat dalam APBD tersebut. Selain itu, DPRD DKI juga menyatakan bahwa angka 12,1 T tersebut merupakan angka yang sah hasil pembahasan.

Benar salahnya, saya tentulah ndak tahu, biarlah nanti pengadilan yang menilai, karena ya saya hanya dapat beritanya dari kanal-kanal berita yang kebetulan tidak diblokir di kantor saya. Saya belum ngobrol sendiri sama Gubernur Ahok maupun H. Lulung. Hanya saja memang dalam pengelolaan keuangan negara, untuk keperluan akuntabilitas, agar comply dengan peraturan yang ada, terkadang efisiensi dan efektivitas dikorbankan. Maka saya pikir wajar sekali orang seperti Gubernur Ahok/Presiden Jokowi dengan background pengusaha, tidak cocok dengan pola dan gaya para birokrat dalam mengelola keuangan negara. Misalnya saja, saya yakin bin seyakin-yakinnya bahwa sebagian besar pengadaan barang/jasa oleh pemerintah itu overpriced. Salahkah pengadaan overpriced? Dari sisi peraturan tidak selalu. Kenapa overpriced? Maka pembaca yang budiman selayaknya membaca sendiri saja peraturan pengadaan barang/jasa oleh pemerintah. Tengok saja harga UPS hasil lelang oleh Pemda DKI seharga 5,9 M/unit, bandingkan dengan harga UPS di pasaran, mungkin saja secara peraturan hal tersebut benar adanya, secara akal sehat?

Maka dari itu saya akan memaklumi kalau pembaca yang budiman misuh saat ini. Tapi ndak apa-apa misuh, itu boleh, asal jangan misuhi saja.

IMG_20150227_214023

Sebagai penutup, kepada pembaca yang budiman, saya sebagai wong cilik hanya bisa menyarankan jikalau sampeyan masih nepsu, masih ngacengan sama yang namanya banda donya, sebaiknya jangan mencoba-coba menjadi pejabat negara. Karena hal tersebut hanya akan membuat pembaca yang budiman sekalian tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Masih ndak percaya? Ya ndak apa-apa risiko ditanggung sendiri lho ya. Karena tanggung jawab pengelolaan keuangan negara itu sungguh berat. Kenapa? Karena duit negara, bukan duite Mbahmu.

Jakarta,

11 Maret 2015

Gambar by @demokreatif

Sepeda..Kring..Kring…

Cuaca Sabtu pagi minggu lalu di Jakarta begitu cerah, setelah malam sebelumnya diguyur hujan dengan lebatnya. Terbangun dari tidur, saya pun menguatkan niat untuk menjalankan rencana yang sudah saya pikirkan beberapa hari belakangan.

Rencananya adalah saya ingin membeli sebuah sepeda, ya sebuah sepeda kayuh yang akan saya gunakan untuk mengarungi hutan beton ibukota.

Sebenarnya rencana saya membeli sepeda sudah lama terngiang-ngiang di benak, agar badan bisa berolahraga pikir saya, karena rutinitas di kantor membuat badan saya kurang bergerak, akibatnya saya mudah merasa capek, ditambah makanan-makanan yang disajikan saat rapat membuat perut makin membuncit, menjadikan saya terlihat seperti korban busung lapar saja.

Bicara tentang belanja, tentu tak terlepas dari budget yang kita anggarkan. Rencana awal, saya tertarik dengan sepeda cap Polygon Heist 1.0, sebuah sepeda hybrid, dengan harga 2 juta kurang sedikit, harga yang masuk akal menurut saya untuk sebuah sepeda.

Rencana saya membeli sepeda mulai diketahui rekan-rekan kerja saya di kantor, karena beberapa kali saya membuka-buka situs sepeda. Tak disangka tak dinyana, ternyata di ruangan saya ada yang telah menggeluti hobi sepeda sebelumnya, mereka adalah Bli Made Krisna dan Mas Didied Sarapan Pagi. Racun-racun pun mulai disuntikkan seiring saya mengorek informasi tentang sepeda dari mereka. Selain jadi tahu bagaimana memilih sepeda yang bagus, saya juga mengenal istilah-istilah baru, macam group set, shifter, derailleur, seat post, stem, handle bar, dan juga cap sepeda dengan harga-harga yang naudzubillah, sebut saja Mosso, Giant, atau pun Specialized.

Bli Made, yang mempunyai Polygon Xtrada 5.0, memberikan kesaksian atas sepeda yang dibeli saat menjalani pendidikan magister’nya di Jogja itu. Kesimpulannya adalah, pertama dan yang paling penting, “Jangan membeli sepeda cap Polygon, karena itu sepeda sejuta umat, mbok sebagus-bagusnya, semahal-mahalnya Polygon to, tetep saja aku ndak bangga makenya”, begitu ujarnya. Lalu kedua, “Budget’mu yang dua juta itu mbok dinaikin, naik sepeda itu bukan asal nggenjot saja, tapi kita nyari kenyamanan juga”, saya pun cuma manthuk-manthuk saja mendengarnya.

Dari kesaksian Bli Made saya mulai mikir-mikir lagi untuk meminang Heist 1.0.

Dan benar saja, angan-angan saya akan Heist 1.0 luluh lantak setelah Mas Didied Sarapan Pagi, yang ternyata pengguna Heist menyatakan ketidakpuasan atas sepeda yang telah dipunyainya selama 4 tahun itu. “Heist itu frame’nya berat, dan ukurannya juga terlalu bongsor untuk postur tubuh seperti kita ini, karena dia semi balap, posisi badannya pun terlalu membungkuk.”, ujar Kepala Seksi lulusan Australia yang postur tubuhnya sebenarnya nggak mirip-mirip amat dengan ukuran badan saya itu. “Kamu to lebih baik nyari sepeda second hand dulu aja, nanti kalau bosan tinggal diupgrade saja, memang mungkin jatuhnya sama kaya sepeda baru, cuma pasti ada kepuasan tersendiri.” Imbuhnya

Saya pun mencoba berpaling ke sepeda lain, di tengah kebingungan saya, datanglah wangsit dari Bli Made, “Wis to kamu cari aja United Dominate atau Thrill Agent, dijamin manteb tuh, framenya terlihat kokoh, speknya juga oke!”, saran pria asli Denpasar yang fasih berbahasa Bali itu.

Saya pun mulai mencari informasi tentang sepeda-sepeda tersebut, dan ternyata wangsit dari Bli Made terbukti tok cer, United Dominate & Thrill Agent, sepeda MTB yang bentuk frame’nya aduhai semlohai, ndak pasaran, dan yang paling penting speknya ndak malu-maluin. Tapi eh tapi setelah mengecek price tag’nya saya pun tersenyum kecut, karena untuk seri terendahnya saja Thrill Agent TR 1.0 dibanderol dengan harga sebesar 3,7 juta, sementara United Dominate tak mau kalah mahal dihargai 4,2 juta, over budget lah saya Bli.

Saya adalah tipe orang yang tidak anti dengan barang second hand, toh barang yang kita beli akan jadi barang second hand saat itu juga bukan. Saya pun mencoba mengobrak-abrik situs jual beli online macam kaskus, olx, dan berniaga. Terdapat beberapa sepeda dijual dengan harga yang oke, tapi sayang seribu sayang banyak orang tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, terbukti hampir semua sepeda-sepeda berharga oke tersebut sold out, menyisakan sepeda second hand lainnya dengan harga yang bikin misuh.

Gagal di dunia maya, Sabtu itu pun saya mencoba peruntungan di Pasar Rumput, pusat penjualan sepeda baru maupun second hand, siapa tahu nasib baik di pihak saya. Dengan badan segar sehabis mandi, saya pun segera memancal si biru Smash SR, si gesit irit yang sudah jatuh bangun dengan saya sejak 2005 itu.

Sampai di Pasar Rumput, saya melihat-lihat beberapa lapak sepeda bekas. Berbagai macam sepeda dipajang, mulai dari sepeda yang bener-bener rongsok, sampai sepeda-sepeda gagah perkasa yang harganya kurang ajar. Lha bagaimana nggak kurang ajar, sepeda cap Giant bekasnya saja dihargai 6-13 juta, sepeda cap Fuji dihargai 10 juta, dan sepeda cap Mosso dihargai 12 juta, cuuuk, ndak misuh gimana kalau gitu.

Saya kembali melihat-lihat ke beberapa toko, memang ada yang menjual Thrill Agent baru, hanya saja yang tersedia hanya versi Tabibitho, dan itu sepeda untuk anak SMP.

Kembali ke jalanan, saya menanyakan pada seorang mas-mas, yang belakangan saya ketahui bernama Herman, “Ada Wim Cycle Thrill Mas?”, “Oh ada Mas, warna hitam, kalau mau dilihat dulu barangnya Mas.” Dan saya pun digiring ke lapaknya untuk melihat sepedanya.

Kesan pertama melihatnya, barang masih dalam konsidi yang lumayan oke, hanya sayangnya spare part yang dipakai sudah bukan spare part asli bawaan Thrill Agent, terlihat juga beberapa bagian terdapat bekas repainting yang kurang rapi. Harga dibuka di 2,5 juta dengan rear derailleur, handle bar, crank, udah nggak jelas apa pabrikannya, untuk front derailleur pakai Shimano Acera, rem cakram mekanik depan belakang cap Zoom, stem cap Nuke Head, dan shifter kacrut cap Shining. Setelah saya hitung-hitung, kalau saya mau mengganti part-part sepeda tersebut dengan part yang oke, paling tidak saya harus nambah sekitar 3 jutaan, wah rugi saya. Saya pun menawar di harga 2 juta, namun si penjual tak bergeming sama sekali. Kebetulan di situ ada beberapa sepeda bekas juga, maka penawaran pun saya ubah, “Mas, saya mau 2,5 juta, cuma rear derailleur, handle bar, sama crank’nya diganti sama punyanya Specialized ini ya, kalau ndak mau ndak jadi deh.” Tawar saya mengancam.

Mas Herman, yang katanya di kampungnya lebih dikenal dengan Acay itu pun berpikir-pikir, sampai akhirnya dia mengiyakan tawaran saya tersebut. Lalu sepeda Thrill warna hitam tersebut dioplos, rear derailleur diganti dengan Shimano Diore, crank diganti dengan Shimano Alivio, handle bar saya mau diganti dengan handle bar’nya Specialized, dan voila, jadilah oplosan sepeda yang lebih mematikan daripada lagu dangdut oplosan yang sempat tenar beberapa waktu lalu.

Tak lengkap rasanya hanya sepeda tanpa asesoris, saya pun menambah lampu depan belakang, kunci gembok pengawan, standar, bel sepeda, pompa angin, dan tak lupa helm untuk keselamatan, total 3 juta lebih saya habiskan untuk sepeda baru saya yang second hand.

Setelah stel sana-sini, akhirnya sepeda pun siap diajak mengarungi kerasnya jalanan ibukota. Jika nanti kalian melihat saya di jalanan, jangan lupa menyapa saya ya, kring…kring….kring….

IMG_20141226_130647

IMG_20141226_130826

IMG_20141226_130726

IMG_20141226_135017

IMG_20141226_130714

IMG_20141226_130701